Minggu, 14 Juni 2020

Guru di pelosok bisa dan saya di ibu kota belum sama sekali....

Belajar Menulis Gelombang 12/ Berbagi Pengalaman Menerbitkan Buku

Pertemuan ke 5     : Rabu, 10 Juni 2020
Waktu                   : 19.00 - 22.00 WIB
Pemateri               : Agung Pardini
                              FB : Guru Agung, Twiter : @GuruAgungPD
Resume                 : Sofina, M. Pd.
                              finazen40@gmail.com/sofinayan.blogspot.com

Malam ini saya belajar dari Master Teacher pada Sekolah Guru Indonesia. Riwayat karier beliau sepanjang rel kereta, teman, hebaaat banget, sebagai pengajar, korektor buku Mata Pelajaran di ESIS, Trainer dan Konsultan, Manajer Pengembangan Kualitas Pendidikan, dan masih banyak lagi. Sekarang beliau adalah GM Sekolah Kepemimpinan Bangsa yang mengelola Bestudi ETOS. ID dan beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA). Sesuai CV beliau saat ini bekerja di Dompet Dhuafa, salah satu programnya adalah SGI (Sekolah Guru Indonesia).

Selain itu beliau juga memiliki rel panjang dalam menulis artikel dan menulis buku. Diantara artikel beliau adalah Sekolah bebasis masyarakat, Transformasi Kelas Ajar, dan masih banyak lagi. Sementara buku beliau diantaranya adalah Menabung Gula Untuk Pendidikan, wuuuih dari judulnya sangat mendalam dan menusuk sanubari. Walaupun katanya beliau sih lebih senang menulis artikel atau naskah akademik dari pada buku.
Beliau pernah menjadi pembicara pada Konferensi Nasional Sejarah VIII, Seminar Pendidikan, Talkshow, Simposium, bahkan kalua ditelusuri nih teman. Ada sampai 22 kali, beliau menjadi pembicara. Bahkan banyak juga mengisi sebagai Pemateri Pelatihan Guru, dari Sabang sampai Merauke.

Berkaitan dengan pekerjaan beliau sekarang, maka beliau berbagi pengalaman tentang usaha beliau untuk mengajak para guru-guru yang mengabdi di daerah-daerah pelososk untuk menulis dan berkarya. Walau kondisi geografis dan budaya, serta aktifitas menulis memiliki tantangan yang luar biasa, ditengah keterbatasan tersebut beliau berusaha untuk menghadapi beberapa kendala, diantaranya gaya bahasa dengan makna yang berbeda, penggunaan komputer yang belum bias, listrik dan lainnya. Naaah untuk itu beliau mencoba menerapkan pendampingan intensif. Hal ini bukanlah tugas yang mudah, butuh kesabaran yang luar biasa.

Ada beberapa ragam jenis yang diberikan untuk guru-guru dipelosok, mereka pun tidak dituntut output berupa buku, bias berupa PTK, jurnal, puisi dan lainnya. Berikut adalah contoh karya guru-guru hebat yang tinggal dipelosok. 




Buku ini terkait dengan inovasi pembelajaran yang telah mereka hasilkan, baik dalam bentuk inovasi metode ataupun media. Buku ini murni dari hasil pengalaman-pengalaman mereka. Buku-buku mereka alhamdulillah dibiayai oleh donasi zakat yang dikelola oleh dompet dhuafa. Ada yang diperjual belikan, ada juga yang dibagikan gratis untuk daerah lain yang membutuhkan.

Selain buku-buku tersebut, juga ada kumpulan kisah-kisah inspiratif dari para pejuang muda Pendidikan yang mengabdi sebagi guru di daerah terpelosok. Begitu banyaknya pengalaman beliau, dan yang paling terkesan adalah kisah guru muda yang meninggal dalam tugas di penempatan. Sebelum meninggal, guru tersebut sempat menulis. Dan akhirnya nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah penghargaan bagi guru-guru terbagik SGI, yaitu Jamilah Sampara Award.

Pak Agung mempunyai cara unik untuk guru yang sedang mengikuti pembinaan di kampus SGI. Diantaranya adalah tiap malam mereka harus menulis pengalaman mereka selama siang hari. Dengan model bermacam-macam, bisa berupa curhat, ataupun tentang Pendidikan. Naaah saat pagilah semua jurnal dikumpulkan untuk diapresiasi dan ditanggapi. Dari sanalah para pengelola dan dosen bias mengetahui tentang perasaan dan pikiran mereka. Dari kebiasaan inilah, guru menjadi terlatih untuk menulis. Namun tetap diimbangi dengan membaca ya teman. Karena membaca akan melatih kepekaan literasi. Dengan menulis buat guru merupakan lompatan dan percepatan dalam peningkatan kapasitas, kompetensi, dan rasa percaya diri.

Masyaallah sungguh luar biasa pengalaman Pak Agung, dengan pengalaman berbagi ini, memberikan cambukan kepada saya, sebagai guru yang tinggal di ibu kota negara Indonesia Jakarta, tetapi saya belum pernah menulis dan berbuat seperti teman-teman guru yang tinggal di pedalaman. Siaaaaap saya siap maju melangkah ke depan dengan menulis walaupun masih mengeja hehehehee, tetap berusaha ya teman-teman, mohon do'anya.

5 komentar:

  1. Gmn kalau ke kalteng...ada daerah yang sulit sinyal he he. Cukup dengar cerita aja ya lewat tulisan. Ntar saya akan menulis pengalaman mengajar di daerah terpencil. Seblm t4 skg.

    BalasHapus
  2. Siap saya juga masih belajar bu.. Mari kita melangkah bersama2 menerbitkan buku

    BalasHapus
  3. Bagus bu,🥰👍

    Mangga mampir di blog saya ibu

    http://latifahzaeni.blogspot.com/2020/06/kisah-bloger-seorang-mr-bams.html

    BalasHapus

👩🏻‍🏫 Tema 5 Bahasa Indonesia